Senin, 27 Desember 2010

Divortiare (Ika Natassa)


Sinopsis:

Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.

Jadi lebih penting punya Furla baru daripada ngilangin nama mantan laki lo dari dada lo?”

Pernah nonton Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka peluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, ”Our scar has a way to remind us that the past is real.

Tapi kemudian mungkin kita tiba di suatu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa ketika melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it. So then you did.

Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar.

[ SPOILER ALERT !! ]

Mengisahkan tentang seorang wanita keras kepala but hard-worker, Alexandra—atau Lexy—yang telah menjadi janda di usianya yang ke-27. Ia dan mantan suaminya, Beno, sama-sama mencintai—tapi itu dulu, 2 tahun yang lalu.

Lexy dan Beno sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah. Keduanya sibuk mengejar karir. Beno sebagai dokter bedah jantung yang tak habis-habisnya menangani pasiennya, dan Lexy sebagai karyawan bank yang tak kalah sibuknya. Keduanya pulang selalu diatas jam 8, kalau lembur bisa sampai tengah malam. Awal-awal pernikahan mereka, semuanya berjalan lancar. Keduanya selalu bertemu di rumah, sekadar ngobrol santai dan makan bersama. Tapi berbulan-bulan kemudian, keduanya makin sibuk, dan akhirnya jarang bertemu. Lexy selalu sudah tidur saat Beno pulang. Karena itu, mereka memutuskan untuk berpisah—well, awalnya Lexy yang menggugat cerai. Namun meski sudah bercerai, tato nama ’Beno’ di dada Lexy tetap tidak hilang. Bukannya nggak mau, tapi Lexy merasa hanya buang-buang uang operasi laser tato itu yang harganya 5 juta. Dia lebih mementingkan membeli barang lain daripada operasi laser.

Sahabat Lexy, Wina, nggak tahan melihat Lexy terus-terusan terkurung dengan masa lalu. Apa-apa dengan Beno (karena Beno itu dokter pribadinya juga). Karna itu, Wina mengenalkan Lexy dengan Denny temannya (sebenarnya mereka udah saling kenal 10 tahun yang lalu di Canberra, Aussie tapi setelah itu Denny pergi ke New York). Pertemuan itu nggak sampai di situ. Mereka mulai komunikasi—mulai dari sekadar SMS penting sampai SMS nggak penting—dan Denny bersedia mengantar Lexy kemanapun yang ia mau.

Lexy selalu menganggap acara jalan-jalannya dengan Denny sebagai ’non-dating thing’, walau ia merasa sangat nyaman berada di dekat Denny. Denny selalu membuatnya tertawa di saat-saat suntuknya setelah kerja di kantor. Tapi di sisi lain, ia tak berhenti berhubungan dengan Beno. Adaaaa saja yang membuatnya tak lepas dari Beno. Mulai dari darah rendahnya (yang membuatnya harus periksa ke dokter dan dokter pribadinya adalah Beno) sampai hanya ketemu di jalan.

Keberadaan Denny bagi Lexy juga bukan hal kecil. Sampai suatu hari, mereka jadian. Tapi tentu dengan pertimbangan panjang. Lexy nggak mau hubungan yang mungkin berakhir ke pelaminan itu akan gagal untuk yang kedua kalinya. Walaupun mereka jadian, Lexy tetap ’sedikit’ menutup dirinya dari Denny, dan menahan perasaannya. Namun tampaknya, Lexy masih menyayangi mantan suaminya itu. Bagaimana tidak? Saat Beno mengetahui bahwa ia pacaran dengan Denny, raut dan mood Lexy langsung berubah, dan ia jadi panik.

Saat Denny melamarnya pun, Lexy juga ragu dan memutuskan untuk bertunangan saja. Apalagi saat ibu Lexy jatuh sakit, dan Beno pula yang merawatnya. Lexy tersentuh, apalagi sisi baik Beno muncul. Tapi puncaknya... adalah saat Denny mengajak Lexy ke New York setelah pernikahan mereka 2 bulan lagi. Lexy kaget karena begitu cepat, apalagi akhir-akhir ini dia galau. Dan keputusannya... yep, bisa ditebak, Lexy menolaknya. Ia menolak Denny, yang selama ini baik, sabar, setia dan selalu menyayanginya tanpa memedulikan status janda-nya. Demi siapa? Demi Beno. Lexy masih mencintai Beno, finally she admitted it!

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Ending ceritanya rada nggak ketebak—for me. Karena sepanjang cerita si Lexy selalu galau antara Beno dan Denny. Dan semuanya baru jelas, saat Lexy menolak lamaran Denny dan tawarannya membawanya ke New York. Barulah jelas, bahwa ternyata Lexy masih ada rasa dengan Beno. Dan Beno... tampaknya sama. Mengapa? Hehe, lebih lengkapnya, baca sendiri bukunya ya hehe ;)

Buat saya novel ini lumayan. Walau sesungguhnya, saya kurang suka dengan pribadi Lexy yang keras kepala—sama dengan Beno juga sih, sama-sama keras kepala—dan itu yang menyebabkan mereka bercerai... Nggak ada yang mau mengalah, yang satu tetap pada A, yang satu tetap pada B. Tapi pada akhirnya, tampaknya mereka saling menyadari dan mulai membuka diri walau sudah bercerai—dan akan rujuk lagi! :D



Judul             : Divortiare
Pengarang   : Ika Natassa
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal             : 320 halaman
ISBN              : 978-979-22-3846-4

0 comments:

Posting Komentar

Blog Template by SuckMyLolly.com