Rabu, 14 Januari 2015

Restart


Pengarang : Nina Ardianti
Penerbit : Gagas Media
Tahun : 2013
Tebal : 456 halaman

SINOPSIS:

Aku selalu mengira tak akan bisa hidup tanpa cintanya. Aku lupa, semua luka perlahan-lahan akan sembuh juga. Biarkan saja waktu yang menjadi obatnya.

Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi 'kita'. Sekarang hanya aku, minus dirinya. Dia pergi terlalu lama dan aku terlalu bodoh terus-terusan memikirkan dirinya. Aku bisa hidup tanpa kenangan dan senyumannya. Kalau sebelum mengenal dia saja aku bisa bahagia, apa bedanya bahagia setelah tanpa dirinya?

Aku pasti akan jatuh cinta lagi. Suatu hari nanti... dan dengan yang lebih baik dari dirinya



REVIEW:

I was fine before you came into my life. And I bet I’ll be just fine without you in it again.”

Menceritakan Syiana Alamsjah yang baru saja mengalami patah hati lantaran pacarnya selama 3 tahun, Yudha, berselingkuh. Syiana lalu pergi ke Hongkong untuk dinas kerja sekaligus melarikan diri dari masalahnya. Namun di Hongkong, sialnya, Syiana bertemu dua cowok: salah satunya mabuk lalu muntah di kakinya, dan yang satunya menuduh Syiana membuat temannya itu mabuk.

Setelah kembali ke Indonesia, Syiana bertemu lagi dengan kedua cowok itu yang ternyata adalah personil band Dejavu yang sedang terkenal—Riza yang muntah di kakinya dan Fedrian Arsjad si penuduh. Tak sampai di situ, Syiana ternyata masih harus sering bertemu Dejavu karena urusan bisnis.

Dari awal, Syiana merasa Fedrian ini menarik dengan segala atribut fisiknya tapi pertemuan-pertemuan Syiana dengan Fedrian selalu diiringi dengan komentar tajam dan keras kepala dari keduanya—bagai anjing dan kucing. Bisa ditebak kalau keduanya sebenarnya tertarik, tapi... belum selesai masalah Syiana dengan Yudha, Fedrian, dan pekerjaannya; masalah baru datang dari mantan Fedrian yang juga artis dan pastinya cantik, Delisa.

“Yah, seperti yang kita semua tahu, satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan patah hati adalah waktu—atau orang baru.”

* * *

Komentar saya: 
I’M SO GONNA HUG MBAK NINA!! 'Cause I’m officially in love with this book.


Oke, mari kita mulai dari tokoh-tokohnya. Lovely banget!
Mulai dari Edyta dengan sifat carefree dan melodramanya yang mampu mengimbangi Syiana yang cenderung ‘sesuai rencana’; Aulia yang oh-ternyata-dia-cowok-saudara-saudara dan entah kenapa suka bikin senyam-senyum sendiri karna komentar nyinyirnya); Nara temen satu band Fedrian yang... kenapa ya, I find him cute aja; keluarganya Fedrian terutama mama Fedrian yang super kepo sama hidup anaknya; dan…… tentu saja Syiana dan Fedrian.

Syiana ini omongannya suka pedes dan sarkastik, tapi dia tau kapan dia harus sopan dan kapan dia harus bitchy, serta nggak menye-menye hidupnya (ya, kecuali bagian dia patah hati—tapi, ayolah, siapa yang mellow dan galau maksimal pas patah hati?). Sementara Fedrian... sumpah ya ini Fedrian minta banget dicium *eh*. Nggak deng, minta banget ditujes-tujes saking ngeselin rada suka maksa slash lovable slash hot slash nikah-able.
Oh, Mbak Nina tau aja cara bikin pembaca cewek klemer-klemer dengan tokoh Fedrian ini.

Dan, dialog mereka yang...

“Kan aku bilang, I’ll drive you home. Kamu parkir di mana?”
“Gimana maksudnya?”
“Artinya, aku akan nyetirin kamu sampai rumah, Syiana. Kamu parkir di mana?”
“Emangnya kamu nggak bawa mobil?”
“Kamu parkir di mana?”
“Kamu nggak bawa mobil?”
“Kamu parkir di mana?”
“Aku nggak akan jawab, sampai kamu jawab pertanyaanku.”
“Aku juga nggak akan jawab sampai kamu jawab pertanyaanku.”

Oke, lanjut. 

Plotnya rapi. Saya menikmati banget proses jatuh cinta Syiana dan Fedrian, dari momen unyu-unyu sampe berantem. Saya bisa liat gimana Syiana dan Fedrian membangun hubungan mereka dari yang tadinya bukan siapa-siapa jadi spesial.

Perasaan Syiana juga terdeskripsikan dengan baik, dengan bahasa yang santai ala Mbak Nina (yang bikin saya suka sejak baca Simple Lie) dan sama sekali nggak kaku. Walaupun saya belum kerja dan belum menyentuh umur 20-an yang merasakan urgensi untuk mencari pasangan hidup yang sepadan dan mapan, saya bisa ngerasain gelisahnya Syiana ketika berhubungan sama Fedrian: status Fedrian sebagai anak band slash seleb kurang meyakinkan untuk menanggung biaya hidup dan juga bikin insecure kalau-kalau doi deket sama artis cewek yang pasti berkilauan dan cantik.

Selain itu, novel ini banyak banget moral value-nya, terutama sih tentang keluarga dan cinta. Banyak juga quote bertebaran, sampe saya yang pas baca biasa aja eh malah jadi galau sendiri. Rasanya quotes-nya mau saya masukin semua ke sini tapi rasanya maruk XD. Lebih baik baca sendiri dan menemukan esensi di baliknya, kan? ;)

Overall, ini buku wajib baca dan punya untuk pecinta romance. Ini sih ceritanya romance banget ya, hati-hati yang lagi galau bisa tambah galau—syukur-syukur jadi move on seperti tagline-nya yang saya suka banget.

“Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on.”

Tadinya mau ngasih bintang 5, tapi sayangnya saya rasa endingnya kurang panjang (maunya sih lebih *ini lebih apa maksudnya haha*), TAPI tetap memuaskan dan manis! Selain itu, saya rada kecewa sama typo yang lumayan banyak dan cetakannya yang ada cacat di beberapa bagian. Tapi itu nggak ngaruh ke cerita sih—yaiyalah.

So, grab one and enjoy!

Relationship is a full-time job. If you're not ready, then don't apply.”


RATE: 4.5/5


PS: Sumpah ya, dari zaman Simple Lie, Fly To The Sky, sampe Restart ini saya nggak berhenti fangirling-in Ilham—kakaknya Edyta. Charming, protective, brother-like. Antara pengen punya kakak kayak dia atau punya pacar kayak dia. Haha.

PPS: Sedang menanti novel Mbak Nina berikutnya—entah cerita tentang Attar, adeknya Fedrian, atau Kemal, kakaknya Fedrian :)

2 comments:

Nukhbah Sany mengatakan...

Nah kan aku jadi pengen baca buku ini. Hayo tanggung jawab! :D

Viktoria Mardhika mengatakan...

Hihi hayo baca! Baca! Baca! :D
Nggak nyesel kok malah jadi sayang sama bukunya~

Posting Komentar

Blog Template by SuckMyLolly.com